Seperti biasa (sebelum pandemi covid 19) setiap sekolah SMA atau sederajat akan membuat brosur tentang panitia penerimaan siswa baru untuk sekolahnya. Lalu brosur-brosur itu akan disebarkan ke sekolah-sekolah SMP atau sederajat.

Tujuannya jelas; untuk merekrut siswa-siswa SMP/sederajat agar masuk ke sekolahnya.

Semua Memiliki Aturan

Dan tentunya bagi siswa SMP/sederajat, brosur-brosur yang masuk ke sekolahnya itu sifatnya hanya ajakan bukan kewajiban. Jadi para siswa dipersilahkan memilih; mau melanjutkan di sekolah mana? Apakah SMA atau SMK? Itu pilihan, bukan paksaan.

Tetapi nanti apabila masing-masing siswa sudah menentukan pilihan sekolahnya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, baru nanti mereka akan terkena beban kewajiban dan haknya.

Misal; seragam, untuk siswa SMA jelas berbeda dengan seragam untuk siswa SMK. Untuk SMK saja juga berbeda-beda. Tergantung dari kejuruannya. Bila jurusan kesehatan (perawat ataupun farmasi, misalnya) maka nanti ada waktu-waktu tertentu semua siswanya diwajibkan memakai pakaian yang seba putih. Mulai dari baju putih, celana atau rok putih dan sepatupun putih.

Hal itu berbeda dengan siswa SMK jurusan tehnik mesin atau yang sederajat. Pada waktu tertentu nanti siswanya juga diwajibkan memakai pakaian kerja lapangan. Lalu untak SMA? Ini juga jelas berbeda.

Nah dari situ sudah jelas bahwa ketika para siswa SMP kelas akhir dan menjelang kelulusan saja mereka baru mendapatkan penawaran tentang sekolah. Dan setiap sekolah yang menawarkan itu dilarang memaksa para siswa SMP itu untuk masuk ke sekolahnya. Sebab bila memaksa maka mereka akan terkena delik pemaksaan.

Tetapi ketika para siswa itu sudah menentukan sekolah pilihannya dan masuk menjadi siswa di sekolah tersebut serta diterima sebagai siswa di sana. Maka sekolah tersebut baru memiliki hak untuk ‘memaksa’ para siswanya untuk mengikuti aturan di sekolah tsersebut.

Para siswa tidak diperbolehkan protes ketika dia melihat pakaian seragam yang dipakai berbeda dengan mantan teman sekolah SMPnya dahulu yang saat ini meneruskan di sekolah yang berbeda jurusan dengan dirinya.

Nah hal ini juga tidak jauh dengan urusan keagamaan.

Dalam Islam, ada dakwah. Dalam dakwahnya Islam menawarkan kepada manusia untuk memeluk Islam. Nah dalam hal ini berlakulah dalil, Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ .

Tetapi nanti ketika seseorang masuk Islam dan memahaminya dengan benar maka orang yang sudah masuk Islam tersebut memiliki kewajiban-kewajiban yang sama dengan orang Islam lainnya pada umumnya. Mereka harus melaksanakan syariat Islam semampunya.

Nah untuk yang ini ayat LAA IKRAAHA FIDDIN tidak berlaku tetapi yang berlaku adalah لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya).

Jadi jangan dibalik-balik dalilnya. Sebagaimana ilustrasi siswa yang sekolah di atas. Jangan juga dibawa-bawa masalah HAM. Nanti bisa rusak urusannya. Dan jangan-jangan yang suka membawa-bawa urusan agama ini ke ranah, sebenarnya dia tidak memahami sebuah keyakinan suatu agama?

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Ibrahim

Baca Juga: Doa Pasti Terkabul

Sedang mencari karpet untuk masjid? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid terlengkap berkualitas Turki. Dapatkan penawaran harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.